Hipertensi

November 5, 2006 pukul 2:17 am | Ditulis dalam ProTap | 4 Komentar

Hipertensi Kasus hipertensi pada seseorang cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya umur, demikian pula angka kematian dan kesakitan kasus kardiovaskuler juga cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya tekanan darah sistolik dan diastolik.

 

Klasifikasi pengukuran tekanan darah

(The sixth report of Joint National Committee on detection, education and treatment of high blood pressure (JNC VI). Arc Intern Med 1997)

Klasifikasi Sistolik Diastolik Tindak lanjut
Normal < 130 mmHg < 85 mmHg Kontrol dalam 2 tahun
Normal Tinggi 130-139 mmHg 85-90 mmHg Kontrol dalam 1 tahun
Hipertensi Ringan 140-159 mmHg 90-99 mmHg Kontrol dalam 2 bulan
Hipertensi Sedang 160-179 mmHg 100-109 mmHg Kontrol dalam 1 bulan
Hipertensi Berat > 180 mmHg > 110 mmHg Kontrol dalam 1 minggu atau dirawat

Penatalaksanaan :

Terapi Tanpa Obat :

  • Untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat
  • Diet rendah garam 5 gr / hari dan rendah lemak
  • Menurunkan BB Pada Obesitas (penurunan BB tiap 1 kg -> tensi turun 1,5-2,5 mmHg)
  • Olah raga teratur, sesuai usia dan kemampuan
  • Berhenti merokok dan minum alkohol

Terapi Obat Antihipertensi:

Pilihan obat antihipertensi (dapat tunggal/ kombinasi)

  • Diuretik: HCT 1-2 X 25 mg/ hari atau furosemid 1-2 X 40 mg/ hari. Kontraindikasi: DM, Gout
  • Beta bloker : Propanolol 2-3 X 10 mg / hari. Kontraindikasi : Asma, DM, Gagal Jantung
  • Adrenergik neuron bloker : Reserpin 1-3 X 0,1 mg . Kontraindikasi : ulkus ventrikuli
  • ACE-inhibitor: captopril 2-3×12,5-25 mg
  • Dan lain-lain

Hipertensi Ringan

  • Terapi tanpa obat selama 1 bulan -> kontrol
  • Diastolik < 100 mmHg -> kontrol tiap 3 bulan
  • Diastolik > 100 mmHg -> Tetapi obat tunggal + kontrol setiap 1-2 bulan, jika tidak terkendali -> kombinasi 2 obat

Hipertensi Sedang

Diuretik dengan Beta bloker atau obat anti hipertensi golongan lain, dan kontrol setiap 1-2 bulan

Hipertensi Berat

Diuretik iv -> Evaluasi dan bila tidak membaik -> rujuk ke RSUD

Krisis Hipertensi

Pada keadaan ini, tekanan darah harus diturunkan dalam waktu 1 jam.

Hipertensi Ensefalopati

Adalah sindrom klinik akut reversibel karena kkenaikan tekanan darah secara tiba tiba, dengan gejala klinik :

  • Sakit kepala hebat,mual, mutah, mengantuk, bingung
  • Kejang umum sampai koma
  • Tekanan darah biasanya > 250 / 150 mmHg (tetapi bersifat individualistik)

Hipertensi Malikna

Dapat disertai komplikasi pada target organ. Tekanan darah > 200 /130 mmHg, disertai komplikasi :

  • Dekompensasi kordis kiri dan edem pulmonum
  • Infark jantung atau Unstable angina pectoris
  • Perdarahan intrakranial
  • Gagal jantung progresif

Lebih jauh tentang Penatalaksanaan dan Jenis serta Dosis Antihipertensi, silahkan download kardiovaskuler dalam format flash swf. Klik kanan download lalu pilih Save Target As …

cak moki

» ke daftar isi

Nephrotic Syndrome (Sindroma Nefrotik)

November 5, 2006 pukul 1:43 am | Ditulis dalam ProTap | 1 Komentar

Sindroma NefrotikKriteria Diagnostik:

  • Oedem anasarka/oedem lokal
  • Riwayat oedem palpebra pada pagi hari (bangun tidur)
  • Ada hipertensi/tidak
  • Proteinuri (+) s/d (++++)

Perawatan:

  • Bed rest
  • Diet TKTP dan rendah Garam
  • Beri Lasix injeksi atau Furosemide tab. 40 mg 2×1
  • Tampung urine setiap hari dan timbang BB tiap hari
  • Terapi oral: Prednison 5 mg/kg BB dibagi 3-4 dosis, kemudian dosis diturunkan secara tappering 1-2 minggu sewaktu perawatan di rumah
  • Roborantia, bila perlu
  • Jika 3 hari tidak ada perbaikan -> rujuk ke RSUD

Penyakit ini memerlukan perawatan jangka panjang (bulanan bahkan tahunan), karenanya perlu penjelasan kepada penderita dan atau keluarganya. Sebaiknya kontrol protein urine secara teratur, walaupun sudah normal dan tidak lagi ada tanda edema.

» ke daftar isi

Prosedur Tetap Persalinan

Oktober 7, 2006 pukul 3:37 am | Ditulis dalam ProTap | 1 Komentar

protap persalinanBerikut di bawah ini adalah ringkasan Prosedur Tetap Persalinan di Puskesmas Perawatan. Untuk perbaikan layanan, dimohon kepada para ts agar senantiasa berkonsultasi dengan para spesialis kebidanan setempat. Dan apabila ringkasan ini sudah tidak sesuai lagi dengan ilmu terkini, dimohon memakai yang terbaru teriring harapan agar dapat memberi info kepada kami, melalui email:
puskesmaspalaran@yahoo.go.id

Prosedur Tetap Persalinan, meliputi:

» ke daftar isi

Persalinan Normal

Oktober 7, 2006 pukul 3:28 am | Ditulis dalam ProTap | 15 Komentar

 

  • partus normalDibuat status penderita, perderita diletakan di ruang persalinan.
  • Lakukan anamnesa lengkap.
  • Lakukan pemeriksaan umum: TB, BB, Vital sign (Tensi, Respirasi, dan Suhu), dan LLA. Apabila didapatkan kelainan dari hasil pemeriksaan, konsultasikan ke Bidan Senior / Dokter jaga / Kepala puskesmas.
  • Lakukan pemeriksaan luar: tentukan letak, presentasi dan sikap janin, DJJ. Jika didapatkan kelainan, konsul Dokter.
  • Lakukan pemeriksaan dalam : bagaimana keadaan vagina, dinding vagina, ada tumor / tidak / penyempitan ? Bagaimana kadaan sertviks uteri, pembukaan atau kelainan-kelainan lain, keadaan ketuban +/- , Apabila ada kelainan, konsul Dokter / Bidan senior.
  • Apabila pembukaan pada primipara antara 1-7 cm, Penderita diminta untuk berjalan-jalan, membersihkan, BABdan BAK ; apabila belum bisa BAB Lakukan lavement. Untuk multipara jika pembukaan 1-5 cm lakukan hal yang sama seperti pada primipara.
  • Apabila dari pemeriksaan ketuban ( – ), periksa dalam harus lebih 4 jam kemudian, dan beri injeksi PPC 4 cc (lakukan test sensitisasi) sehari 2x. Apabila ketuban (+), PD setiap 2 jam.
  • Jika ibu dan janin normal, kepala sudsh masuk panggul, ketuban (+), pembukaan < 7 cm, ibu boleh jalan-jalan atau tiduran miring ke kiri / kanan.
  • Tunggu pembukaan lengkap:
  • Observasi HIS dan DJJ tiap 15 menit.
  • Evaluasi PD tiap 2 jam.
  • Pasien diajak ngobrol, dihibur, diajari cara menarik nafas dan cara mengejan dan motivasi ASI eksklusif.
  • Anjuran banyak minum.
  • Kosongkan kandung kencing tiap 4 jam.

Bila ada tanda-tanda keluar lendir, darah banyak, pasien ingin muntah dan ingin mengejan/ berak/ anus terbuka/ ketuban pecah spontan, periksa dalam: jika pembukaan lengkap, kosongkan kandung kencing dengan kateter Nelaton.
Bila ketuban (+) -> pecahan
Bila ketuban (-) -> pastikan tidak ada bagian kecil janin / tali pusat menumbung.

Setiap ada HIS, pimpin mengejan:

  • Pada primipara, lakukan episiotomi. Apabila kala II 1-2 jam tidak lahir, konsul bidan senior / dokter.
  • Pada multipara, tergantung kondisi Perineum, kala II ½-1 jam tidak lahir, konsul bidan senior / dokter.

Setelah kepala lahir, bersihkan mulut dan hidung dengan kasa steril, hisap lendir hidung dan mulut secara hati-hati:

  • Bila ada lilitan tali pusat, longgarkan dan lepaskan melalui leher.
  • Bila lilitan ketat -> potong tali pusat saat itu juga

Pada kondisi normal, potong tali pusat setelah semua bagian bayi lahir, beri Betadin dan ikat:

  • Prematur: tali pusat langsung dipotong tanpa diurut.
  • Cukup Umur: sebelum dipotong , urut dulu tali pusat ke arah bayi.

Kalau terjadi asphexya, lakukan:

  • Pembersihan jalan nafas, diberi kain penghangat, rangsang refleks pernafasan dengan refleks nyeri.
  • Jika asfeksia sedang / berat, beri oksigenasi, pijat jantung dan koreksi asidosis, beri meylon 7,5 % + glukosa 40 % dan akuabides (3 ml:3 ml:6 ml) melalui vena umbilical, aminopilin 2 mg iv untuk merangsang pernafasan. Jika 15 menit tidak membaik dirujuk, dan jika membaik masukkan couvis.

Cek keadaan bayi : lubang anus, telinga, adakah cacat anggota tubuh lain. Jika tidak ada kelainan, bayi diserahkan kepada pembantu untuk dimandikan dan di-room mingin. Ukur TB, BB,dan LK. Jika ada kelainan, konsultasikan ke dokter.
Kosongkan kandung kencing ibu dengan kateter logan:

  • Jika tidak ada pendarahan -> tunggu plasenta lepas sendiri.
  • Jika ada pendarahan banyak -> evaluasi manual.

Setelah plasenta lahir, pastikan bahwa semua kotiledon dan selaput ketuban lengkap. Kalau ada yang tertinggal -> evaluasi manual.

Palpasi uterus:

  • Jika kontraksi baik, tak apa-apa -> beri injeksi neuroboran.
  • Jika kontraksi jelek:
  1. Yakin plasenta lahir lengkap -> beri injeksi ergometrin 1-2 amp iv /im
  2.  Bila tidak yakin plasenta lahir lengkap -> beri injeksi oxytosin 1 amp. 1 ml. sambil masage uterus dari luar sampai kontraksi baik. Jika tetap jelek, kompresi bimanual 15 -30 menit, pasang infus NaCI 0,9% konsul Dokter dan atau rujuk ke RSUD.

Luka episiotomi / ruptur per inci jahit dengan cat gut, jahit luar degan silk, tutup dengan kain kasa stiril betadin ; kemudian mandikan ibu dan bersihkan. Dekatkan bayi dan segera susui.
Awasi pasien 2 jam di ruang bersalin. Lihat pendarahan yang terjadi : normal / tidak,periksa fundus dan kontraksi uteri, dan cek vital sign. Jika tidak terjadi apa-apa, pindahkan ibu ke bansal post partum dan rawat gabung dengan bayinya.

Terapi di Ruang Perawatan :
Ibu :

  • Beri Vit. A dosis tinggi 1 x.
  • Roborantia dan tablet Besi
  • Jika ada episiotomi / ruptur / KPD / manual / VE, tambah Antibiotika PPC / ampisilin 500 mg 4×1.

Bayi :

  • ASI Ekslusif.
  • Mata tetesi dengan cairan Ag Nitrat 2 tetes 1 x.

Persalinan Abnormal

Oktober 7, 2006 pukul 3:23 am | Ditulis dalam ProTap | 2 Komentar

Persalinan AbnormalPartus dengan janin presentasi bokong (prebo)
Partus lama
Partus dengan janin letak lintang
Partus dengan janin gemelli
Partus pada ibu hamil Resiko Tinggi (eklampsia, anemia, dekomp cordis, dll)

Untuk Presbo dan Partus Lama

  • Diusahakam partus dengan persalinan normal.
  • Dengan menggunakan perasat Brach persalinan presbo dilahirkan, apabila gagal segera dirujuk ke RSUD.
  • Dengan menggunakan vaccum extraksi, partus lama coba dilahirkan: bila gagal segera dirujuk ke RSUD. Penangannan sebelum vaccum : Perbaiki KU dengan pasang infus, RL / NaCI tetesan maintanance, penanganan kala II aktif.
  • Untuk Letak Lintang, Gemeli dan Ibu Bersalin Resiko Tinggi
  • Setelah dipastikan melalui periksa luar dan dalam, rujuk segera ke RSUD.

Pesan:
Layanilah setiap pasien dengan penuh keramah-ramahan dan senyum manis, sama seperti perlakuan yang anda harapkan dari sipenolong sewaktu anda sendiri melahirkan bayi anda.

Catatan:
Untuk mengetahui apakah kemungkinan persalinan dapat berlangsung pervaginam, digunakan penilaian pelviks menurut BISHOP, sebagai berikut :

Pelvic Score
Untuk mengetahui kematangan servik -> penilaian kemungkinan dapat berlangsung pervaginam.

BISHOP (Modifikasi Gulardi H. Wiknjosastro)

Kondisi Portio:
Ketebalan:

  • tebal 3 cm : nilai=0
  • tebal 2 cm : nilai=1
  • tipis lunak 1 cm : nilai=2
  • tidak teraba : nilai=3

Kekakuan:

  • kaku : nilai=0
  • lunak : nilai=1
  • mudah diregang : nilai=2

Posisi :

  • arah ke belakang : nilai=0
  • agak ke belakang : nilai=1
  • arah ke muka : nilai=2

Pembukaan:

  1. Tidak ada : nilai=0
  2. 1-2 cm : nilai=1
  3. 3-4 cm : nilai=2
  4. Lebih 5 cm : nilai=3

Presentasi Kepala:

  • 3 cm di atas garis IS : nilai=0
  • 2 cm di atas garis IS : nilai=1
  • 1 cm di atas/di garis IS : nilai=2
  • 1-2 cm di bawah garis IS : nilai=3

Hasil Penilaian:
Bila jumlah nilai pelvic:

  • 10 (matang) -> segera lahir sekitar 15 menit
  • Lebih dari 7 -> kemungkinan persalinan pervaginam 100%
  • Nilai 5-7 -> kemungkinan persalinan pervaginam 40-60%
  • Lebih dari 5 -> kemungkinan persalinan pervaginam 0-15%.

» ke daftar isi

Perdarahan Ante Partum

Oktober 7, 2006 pukul 3:18 am | Ditulis dalam ProTap | 5 Komentar

Definisi :
Perdarahan ante partum adalah pendarahan pada kehamilan > 28 minggu dengan/tanpa disertai nyeri perut yang penyebabnya tidak jelas, dengan masih ada/tanpa gerakan janin.

Penyebab :

  • Plasenta Previa
  • Solusio plasenta

Penatalaksanaan :

  • Kontraindikasi untuk periksa dalam
  • Perdarahan baru pertama kali terjadi dan hanya sedikit -> istirahat total, beri NaCI 0,9% atau RL.
  • Perdarahan telah berulang/perdarahan banyak -> dirujuk dengan infus terpasang dan didampingi paramedis.

» ke daftar isi

Perdarahan Post Partum

Oktober 7, 2006 pukul 3:16 am | Ditulis dalam ProTap | 46 Komentar

post partum bleedingDefinisi :
Perdarahan Post partum (PPP) adalah perdarahan setelah bayi lahir (Kala IV) sebelum / pada saat setelah plasenta lahir, dengan jumlah >500 cc.

Penyebab :

  • Atonia uteri
  • Laserasi jalan lahir
  • Retensio Plasenta
  • Kelainan proses pembekuan darah.

Penatalaksanaan :

  • Pasien diinfus
  • Pasien tidur trendelenberg
  • Selimuti tubuh Pasien
  • Oksigenasi

Atonia Uteri

  • Massage uterus melalui diding abdomen dengan cara : tangan kanan penolong melakukan gerakan memutar sambil menekan infus uteri.
  • Bersamaan dengan massage uterus ? beri methergin 0,2 mg ( Metil ergometrin ) iv
  • Bila pendarahan belum berhenti -> beri oxytosin 5-10 unit dalam 500 ml Dextrose 5% atau RL.
  • Bila tindakan di atas tidak menolong -> kompresi bimanual, dengan cara : satu tangan masuk uterus, tangan yang lain menahan korpus uteri melalui abdomen. Uterus diangkat, diantefleksikan, lalu dengan gerakan memutar uterus dimassage dan ditekan di antara kedua tangan.
  • Bila pendarahan belum juga berhenti -> tamponade uterus, dengan cara : salah satu tangan memegang dan menahan fundus uteri, tangan yang lain memasukan tampon kasa panjang ke dalam uterus. Tampon dipasang dari tepi ke tepi sampai seluruh kavum uteri terisi dan vagina juga terisi tampon . Pada dinding abdomen di atas fundus uteri diberi ganjal -> pasang stagen.
  • Tampon diangkat 24 jam kemudian.
  • Uterus yang makin membesar, tanda vital yang makin jelek -> rujuk dengan keterangan bahwa di dalam uterus terpasang tampon (selama dalam perjalanan tetap dilakukan kompresi bimanual).

Laserasi jalan lahir
Dengan spekulum lakukan eksplorasi, apakah ada :

  • Perlukaan jalan lahir / robekan vagina / robekan serviks
  • Luka episiotomi / robekan perineum
  • Varises pecah
  • Ruptur uteri (terutama bila riwayat persalinan sebelumnya sulit / dilakukan tindakan)

Penanganan :

  • Perlukaan -> jahitan silang yang dalam
  • Ruptur uteri -> rujuk ke RS / RSUD dengan infus terpasang didampingi seorang paramedis.

Retensio Plasenta
Lakukan manual Plasenta :

  • Satu tangan menahan fundus, tangan yang lain (dengan sikap obstetrik) dimasukan ke dalam vakum uteri dengan menyusuri tali pusat.
  • Pinggir plasenta ( sisa ) dicari dan dilepaskan secara tumpul dengan sisi ulnar tangan.
  • Setelah yakin semua plasenta lepas -> genggam dan keluarkan.
  • Pengeluaran ini dibarengi dengan massage uterus dari luar dan injeksi ergometrin 0,152 mg / metergin 0,2 mg iv.

Bila ditemukan plasenta akreta -> rujuk ke RS / RSUD dengan infus terpasang diserta seorang paramedis.

Kelainan proses pembekuan darah -> Rujuk

» ke daftar isi

Ketuban Pecah Dini

Oktober 7, 2006 pukul 3:11 am | Ditulis dalam ProTap | 10 Komentar

Definisi :
Pecahnya selaput ketuban pada pembukaan servik < 5 cm dalam kehamilan/persalinan.

Prognogis: Bila jarak pecahnya ketuban dengan partus:

  • 24 jam -> kematian perinatal 2x
  • 48 jam -> kematian perrinatal meningkat 3x

Penatalaksanaan :
Bila kehamilan < 32 minggu, TBJ + 1500 gr -> terapi konservatif (diharapkan ketuban menutup)

  • Istirahat total
  • Sedative : Fenobarbital (luminal) 3 X 30 mg/hari
  • Minum 2 liter (10 gelas)/hari
  • Antibiotika: Amoksisilin 3 X 500 mg (5 hari)
  • Deksametason 3 x 5mg/hari (2 hari) -> mematangkan paru
  • Bila dalam 3 x 24 jam air ketuban tidak keluar -> Mobilisasi
  • Bila terjadi infeksi (AL > 15.000, suhu > 38ºC, air ketuban keruh) -> ahiri kehamilan.

Bila kehamilan 33 – 35 minggu, TBJ < 2500 gr.

  • Terapi konservatif 24 jam
  • Induksi.

Bila kehamilan > 36 minggu, TBJ > 2500 gr
Bila HIS (+) -> pimpin persalinan
Bila HIS (-):

  1. KPD < 6 jam, Pelvic Score > 5 -> Induksi
  2. KPD < 6 jam, Pelvic Score < 5 -> Rujuk RS (SC)

» ke daftar isi

Asfeksia Neonatorum

Oktober 7, 2006 pukul 3:09 am | Ditulis dalam ProTap | 4 Komentar

asfeksiaDefinisi:
Asfeksia Neonatorum merupakan keadaan di mana bayi baru lahir gagal bernafas spontan dan teratur segera setelah lahir.

Penyebab:
Hipoksia janin dalam rahim, yang berhubungan dengan berbagai faktor selama kehamilan, persalinan, dan segera setelah lahir.

Gejala dan tanda :

  • Selama persalinan timbul tanda gawat janin :
  • DJJ > 160x/menit atau DJJ < 100x/menit atau tidak teratur
  • Mekonium dalam air ketuban pada janin presentasi kepala.

Setelah persalinan, ditegakkan dengan dasar nilai APGAR, seperti tampak di bawah ini:
Tabel APGAR Score:
Denyut jantung:

  • Tidak ada : 0
  • <100x/menit : 1
  • > 100x/menit : 2

Pernapasan:

  • Tidak ada : 0
  • Lambat, tidak teratur : 1
  • Menangis kuat : 2

Tonus Otot:

  • Lumpuh : 0
  • Sedikit fleksi : 1
  • Gerak aktif : 2

Reflek terhadap rangsang:

  • Tidak ada : 0
  • Sedikit mimik : 1
  • Batuk / bersin : 2

Warna kulit:

  • Biru / pucat : 0
  • Tubuh kemerahan, ekstremitas biru : 1
  • Kemerahan : 2

Perhitungan nilai APGAR dilakukan pada menit ke 1 dan ke 5 dengan tujuan:

  1. Menit ke 1 : menggambarkan tindakan yang akan dilakukan
  2. Menit ke 2 : menilai prognosa

Arti penilaian :
Nilai 7-10 : bayi normal
Nilai 4-6 : asfeksia ringan-sedang
Nilai 0-3 : asfeksia berat.

Penatalaksanaan : -> Resusitasi

Tindakan Umum (untuk semua BBL):

  • Keringkan dan hangatkan badan bayi dengan selimut
  • Bersihkan jalan nafas -> posisi kepala lebih rendah -> isap lendir dari nasofaring, kemudian hidung
  • Rangsang refleks pernafasan dengan refleks nyeri (memukul telapak kaki, menekan tendo achilles).

Tindakan Khusus
Asfeksia Sedang -> rangsang pernafasan1-2 menit, jika gagal -> tatalaksana asphexya berat.
Asfeksia Berat:

  • Oksigenasi 1 liter / menit, lebih baik dengan ambubag dengan kekuatan 1/3 orang dewasa sebanyak 30-40 X /menit
  • Pijat jantung dengan kedua ibu jari pada sternum sebanyak 80-100 x/menit
  • Koreksi asidosis : Meylon 7,5 dicampur Glukosa 40% dan Aquabides (3ml:3ml:6ml) melalui v. umbilicalis
  • Aminofilin 2 mg iv untuk merangsang pernafasan
  • Siapkan kendaraan, jika dalam 15 menit tidak BAK -> rujuk (disertai oksigenasi dan seorang paramedis).

» ke daftar isi

Infeksi Post Partum

Oktober 7, 2006 pukul 3:03 am | Ditulis dalam ProTap | 1 Komentar

Kriteria diagnostik :

  • Suhu tubuh meninggi (Panas 38º – 40ºC), 3-7 hari post partum
  • Lochia berbau busuk
  • Kadang-kadang disertai kejang

Perawatan :

  • Pasang infus RL/D 10% tetesan maintanance
  • Antibiotika injeksi/oral:
  • Suhu < 39ºC -> beri Ampisilin / Amoksisilin 4 x 500 mg per hari
  • Suhu > 39ºC -> beri Antibiotika: Amoksilin 1 gr (inj) dengan garamisin (inj) 80 mg atau Kemisetin ( inj ) 1 flc. Pagi dan sore
  • Anti piretik : parasetamol 3 X 500 mg
  • Keadaan umum jelek / sepsis -> beri Dexametason (inj) iv 2 amp. Pagi dan sore, atau Cortison 4 cc im pagi dan sore
  • Kompres
  • Jika kejang -> beri Dizepam (inj) iv 10mg setiap 30 menit sampai kejang teratasi
  • Diet TKTP
  • Jika 3 hari tidak ada perbaikan -> rujuk ke RSUD.

» ke daftar isi

Kehamilan Resiko Tinggi

Oktober 7, 2006 pukul 2:58 am | Ditulis dalam ProTap | Tinggalkan komentar

kehamilan resiko tinggiDi bagian ini tidak banyak yang dapat kami tampilkan, mengingat kasus-kasus kebidanan kebanyakan memerlukan tindakan spesialistik.
Karenanya, hanya sebagian kecil yang dapat kami lakukan. Namun demikian diharapkan ada semacam transfer of knowledge dari RSUD ke Rawat Inap dalam rangka upaya perbaikan mutu pelayanan.
Mungkin hal itu dapat terlaksana bila ada semacam komitment bersama antara para spesialis dengan pihak Dinas Kesehatan Dati II.

Prosedur tetap Perawatan Kehamilan dengan Resiko Tinggi, meliputi:
Hiperemesis Gravidarum
Pre Eklampsia dan atau Eklampsia
Abortus

» ke daftar isi

Hiperemesis Gravidarum

Oktober 7, 2006 pukul 2:40 am | Ditulis dalam ProTap | 25 Komentar

Emesis Gravidarum

Kriteria :

  • Mual dan mutah selama kehamilan muda (6 – 16 minggu)
  • Masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari;
  • Sering timbul pada pagi hari (morning sickness).

Penatalaksaan :

  • Pendekatan psikologis –>> terangkan bahwa itu merupakan gejala kehamilan muda, akan hilang sendiri setelah kehamilan 16 minggu
  • Perbanyak istirahat
  • Kurangi beban kerja sehari-hari dan beban psikologis
  • Medikamentosa : pasang infus RL / D10% , jika KU jelek atau pre-shock –>> Antivomitus ( Primperan inj. +/ oral ) tranguliser.

Hiperemesis Gravidarum

Kreteria :

  • Mual dan mutah semakin hebat
  • Tidak dapat lagi melakukan aktivitas sehari-hari.

Penatalaksaan :

  • Rawat inap
  • Stop makan / minum dalam 24 jam pertama
  • Obat-obat diberikan parenteral
  • Infus D10% ( 2000 ml ) + RD5% ( 2000 ml) / hari tiap botol tambahan :
  • Antiemetik ( metoklopramid hidrochlorid ) 1 amp (10 mg)
  • Roborantia
  • Kalau perlu Diazepam 10 mg im
  • Psikoterapi
  • Dalam 24 jam pertama –>> evaluasi
  • Bila membaik : boleh makan / minum bertahap ;
  • Bila tetap : Stop makan minum ? lanjutka R/ di atas untuk 24 jam kedua
  • Bila dalam 24 jam kedua tidak membaik –>> pertimbangan rujukan
  • Infus dilepas setelah 24 jam bebas mual dan mutah

Kriteria pulang :

  • Mual dan mutah tidak ada lagi
  • Keluhan subyektif tidak ada
  • Tanda-tanda vital baik.

» ke daftar isi

Pre Eklampsia dan Eklampsia

Oktober 7, 2006 pukul 2:37 am | Ditulis dalam ProTap | 2 Komentar

Kreteria Pre-Eklampsia:

  • Hipertensi
  • Proteinuria
  • Oedem tungkai

Kreteria Eklampsia:

  • Hipertensi
  • Proteinuria
  • Oedem tungkai
  • Kejang

Penatalaksaan:

  • Infus D5%
  • Beri Diazepam ( inj ) 10 mg iv
  • Beri Furosemide 40 mg iv
  • Jika tidak ada perubahan —>> Rujuk ke RSUD .

Catatan: Penatalaksanaan di atas bersifat penunjang, langkah selanjutnya adalah rujuk ke RSU, lebih-lebih pada kasus eklampsia.
cakmoki | link sejenis

» ke daftar isi

Abortus

Oktober 7, 2006 pukul 2:32 am | Ditulis dalam ProTap | 29 Komentar

hamilAbortus imminens ( masih dapat dipertahankan )

Definisi :
Abortus imminens adalah perdarahan pada kehamilan < 28 minggu, dengan / tanpa kontraksi uterus yang nyata, dengan hasil konsepsi dalam uterus tanpa dilatasi servik.

Gejala dan tanda :

  • Mules-mules
  • Perdarahan pervaginam
  • Tanda-tanda kehamilan (+)
  • Status generalis ( + )
  • Status generalis: denyut bayi normal
  • Besar uterus sesuai umur kehamilan
  • Inspekulo : Ostium tertutup, Keluar darah dari ostium.

Diagnosa banding :

  • Mola hidotidosa
  • Kehamilan di luar rahim.

Penatalaksanaan :

  • Bed rest
  • Observasi perdarahan
  • Fenobarbital 3 x 30 mg / hari
  • Papaverin 3 x 40 mg / hari.

——————————————————————————————
Abortus insipiens ( sedang berlangsung )

Definisi :
Abortus insipiens adalah perdarahan pada kehamilan < 28 minggu dengan dilatasi servik meningkat, dan hasil konsepsi masih dalam uterus.

Gejala dan tanda :

  • Amenore
  • Perdarahan pervaginam
  • Mules-mules
  • Tanda – tanda kehamilan (+)
  • Inspekulo : Ostium terbuka, Ketuban (+).

Penatalaksanaan :

  • Infus D5% = Oksitosin 10 unit ;
  • Bila abortus tidak lengkap ? lihat Abortus inkomplit

——————————————————————————————
Abortus inkomplit

Penatalaksanaan :

  • Infus NaCI / RL
  • Kuretase
  • Paska kuretase : Metil ergometrin 3 x 1 tab dan antibiotika
  • Observasi perdarahan

——————————————————————————————
cak moki

last update: september 2006

» ke daftar isi

Penutup

Oktober 7, 2006 pukul 2:26 am | Ditulis dalam ProTap | Tinggalkan komentar

cak mokiDemikian Prosedur Tetap ini dibuat dengan harapan dapat membantu Petugas Kesehatan baik medis maupun Paramedis serta Petugas lain dalam upaya optimalisasi perawatan penderita.
Kami menyadari bahwa Prosedur tetap ini masih sangat sederhana, karena itu kritik dan saran perbaikan dari berbagai pihak khususnya Teman Sejawat para Dokter Spesialis sangat kami harapkan.
Akhirnya kami ucapkan terimakasih kepada Teman Sejawat yang telah membantu kami dalam penyusunan Buku ini, teriring do’a semoga upaya kita mendapatkan ridlo dari Allah SWT. Amin.

Samarinda, Desember 2002 M
last up date 2006
dr. H. Hatmoko

Kepustakaan:

  • Principles of Internal Medicine, Harrison, Fifth edition
  • Protap Ruang Rawat Inap Puskesmas Semanu I Kabupaten Gunung Kidul tahun 1997.
  • PDT UPF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1994
  • Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak FK Unair, 1994
  • PDT UPF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1994
  • PDT UPF Ilmu Penyakit Jantung RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1994
  • PDT UPF Ilmu Penyakit Paru RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1994
  • PDT UPF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1994
  • Pedoman Pengobatan, Manual Of Medical Therapeutics, Yayasan Essentia Medica Yogyakarta, 1992

» ke daftar isi

« Halaman Sebelumnya

Get a free blog at WordPress.com | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.