Pelayanan Kesehatan Dasar

September 15, 2006 pukul 2:11 am | Ditulis dalam Health Issues | 1 Komentar

yankes dasarLima puluh menit dari 7.30-8.20, seolah menjadi rentang waktu “spesial” saat memberi materi kuliah Sistem Pelyanan Kesehatan Dasar, bagi mahasiswa PSKU Unmul, yang merupakan bagian dari Manajemen Kesehatan. Ada dua hal menarik pada pertemuan pagi tadi.

Pertama, gambaran kondisi riil layanan kesehatan, terkait dengan mutu pelayanan di Puskesmas. Ketika brain storming tentang topik di atas, mahasiswa memberi gambaran beragam yang memang benar-benar terjadi di kebanyakan Puskesmas dan layanan kesehatan pada umumnya. Kalimat singkat yang muncul adalah:
Petugas tidak ramah, kebanyakan penderita tidak diperiksa, obat terbatas, laboratorium sangat minim, kotor, kumuh, dan masih banyak yang sejenis. Ungkapan tentang kondisi di atas sudah tentu “amat jauh” dari ukuran layanan bermutu. Inipun dilihat hanya dari segi Kuratif, belum menyentuh layanan lain yang komprehensif, semisal Promotif, Preventif dan Rehabilitatif. Memang ada upaya dari Depkes untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar, yakni dengan diluncurkannya Program Quality Assurance (Jaminan Mutu) dan berlanjut ke Pemecahan Masalah Kompleks (Complex Problem) sejak sekitar tahun 1995- 1996. Program tersebut dibiayai olen bantuan (hutang) Bank Dunia yang makan biaya besar. Menurut hemat saya program tersebut gagal. Lebih-lebih bila dibandingkan dengan biaya yang konon amat besar dan isi dari program itu sendiri. Kala itu parameternya adalah penanganan kasus Pnemonia, Diare dan persentase suntikan pada kasus-kasus neuromuskuler. Kronologi dari lahirnya QA juga masih menyimpan misteri. Konon ketika ada bantuan (hutang) Bank Dunia tahun 1995-1996, departemen-departemen sibuk membuat program agar mendapatkan bagian “kue” dari Bank Dunia tersebut. Bisa ditebak apa yang terjadi, yakni lahirnya program yang “dibuat-buat”. Mengapa penulis berpendapat demikian ? Mari kita urai sedikit isi QA. Salah satu unggulan isi QA adalah penatalaksanaan kasus pnemonia. Setiap kasus dengan panas dan atau batuk pilek, tidak boleh diberi antibiotika kecuali ada tanda pnemonia, karena sebagian besar disebabkan virus yang rata-rata sembuh sendiri. Bayangkan, yang beginian ini pelatihannya makan waktu sampai seminggu. Materinya hanya pengenalan kasus pnemonia, cara diagnosa dengan ukuran retraksi, hitung napas dan penyulitnya, serta penatalaksanaanya (jenis, dosis dan lama pemberian obat, termasuk evaluasinya 2 hari kemudian). Bila baca sendiri paling banyak makan waktu hanya 2 jam, itupun sudah di buku-buku yang lengkap. Boleh dikata QA yang heboh tersebut hanyalah menyentuh sedikit aspek teknis medis, belum mengarah kepada tatanan layanan kesehatan yang komprehensif. Sebenarnya, panduan penatalaksanaan berbagai kasus penyakit sudah termuat lengkap dalam Panduan Kerja Puskesmas jilid I-IV tahun 1984 lalu diperbarui tahun 1990-1991. Mungkin depkes sudah lupa dengan buah karyanya sendiri. Jadi Program QA sesungguhnya hanyalah mengulang salah satu panduan dengan dana yang konon sangat besar. Benar tidaknya isu bagi “kue” , wallahualam. Hal menarik lain dalam layanan kesehatan adalah gambaran berikut: seorang anak dibawa ibunya berobat, setelah ditanya keluhannya, petugas kita (dokter atau paramedis) memberi resep untuk mengambil obat di kamar obat. Seringkali tidak diperiksa, bahkan tidak tahu berat badannya, tapi anehnya muncul resep antibiotika. Darimana menentukan dosisnya ? Nah, itulah sebagian kecil potret layanan kesehatan kita. Apakah bermutu? No.
Lebih jauh tentang mutu pelayanan kesehatan, akan dimuat secara khusus pada posting berikutnya.

Kedua, para mahasiswa tampaknya lebih tertarik pada tampilan materi kuliah daripada isi kuliahnya, semoga aja ngga demikian. Pagi tadi sengaja menggunakan cd yang berjalan autorun, menampilkan intro standalone dengan efek transisi diagonal curling of page unrolling. Lalu link ke halaman navigasi yang berisi menu menuju link-link lainnya. Maklum menurut adik-adik mahasiswa, belum pernah mendapatkan materi kuliah dengan format Flash yang berinteraksi dengan program multimedia lainnya. Katanya sih selama ini pakai powerpoint atau power point show. Sudah bagus sebenarnya daripada pakai OHP, tapi namanya kawula muda wajar saja menginginkan hal baru yang lebih interaktif. Lebih-lebih ketika di akhir kuliah ditampilkan bonus slideshow dan bonus medical review dalam format flash, seru deh. Memang, flash adalah salah satu format multimedia audiovisual yang banyak digemari dan diakui keunggulannya. Selain ukuran file yang relatif kecil dibandingkan program sejenis, interaksi dan kompatibilasnya dengan program lain tergolong handal. Enaknya lagi, dalam kemasan cd bisa diisi dengan materi kuliah edisi cetak dalam format pdf atau word, sehingga mahasiswa tinggal cetak. So hemat waktu karena tidak perlu lagi banyak mencatat, kecuali hal-hal yang dianggap penting. Sejujurnya, mahasiswa lain di beberapa perguruan tinggi sudah sangat friendly dengan flash, adobe photoshop dll, bahkan sudah ada pula yang mendapatkan manfaat darinya berupa orderan iklan, baliho, sablon kaos dan sejenisnya.
Dalam hal tampilan presentasi materi kuliah, mungkin memang sudah saatnya para dosen di semua perguruan tinggi memanfaatkan teknologi informasi untuk proses belajar mengajar. Yang belum punya LCD proyektor ngga usah kecil hati, mengingat LCD sudah bisa dijangkau dengan harga di bawah 10 juta, itupun sudah wide-screen. Yang sudah punya tinggal mengoptimalkannya. Hal ini penting sebagai jawaban tuntutan jaman, efisiensi waktu gitu loh… Oya kalo untuk membuatnya, nggak perlu anggaran karena tutorial sudah menjamur di internet dan gratis … penulis sendiri berencana mensosialkan flash, ebook dan web blog kepada temen-temen dosen sebagai penunjang proses belajar mengajar. Alhamdulillah, dari omong-omong informal, tampaknya gayung bersambut dan pak PD II berencana menggelar semacam latihan untuk para dosen sehabis lebaran nanti. Konsekwensinya, penulis harus siap menjadi semacam mentor, … sharing sedikit pengetahuan, dan semoga bisa terealisasi.

Materi kuliah sistem pelayanan kesehatan dasar, silahkan klik download file di bawah:
Download : format swf 155 kb
Download : format pdf 215 kb

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya sdh melihat presentasi mengenai Yankes Dasar, namun isinya belum disesuaikan dengan perkembangan mutakhir. Visi dan misi Puskesmas, fungsi Puskesmas, dll lihat Puskesmas di Era Desentralisasi. Mengenai QA Puskesmas, menurut saya cukup baik untuk dipraktekkan, dengan penekanan pada dimensi mutu kompetensinya. Tetapi tidak menganbaikan dimensi mutu lainnya, seperti efisien, efektivitas, akses, hubungan antar manusia, informasi, kesinambungan, keamanan, kenyamanan dan tepat waktu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: