Booming Cyprofloxacin

Oktober 5, 2006 pukul 3:23 am | Ditulis dalam Health | Tinggalkan komentar

CyprofloxacinBeberapa tahun terakhir ini disinyalir terjadi pemakaian Cyprofloksasin yang luar biasa, bukan saja dipakai sebagai drug of choice STD, tetapi sudah ada kecenderungan pemakaian terhadap hampir semua penyakit. Kalau tadinya “hanya” pro kontra tentang perlu tidaknya pemakaian cyprofloxsasin terhadap penderita thypoid (MRS) yang diduga mengalami Multi Drug Resistance (MDR), kini indikasi dan cara kerja obat tersebut sudah diabaikan, bahkan beberapa dokter menggunakan obat ini untuk penderita tonsilitis, diare dan lain-lain.
Tentu tidak salah ketika misalnya sebuah wilayah atau negara dinyatakan MDR pada penyakit tertentu (contohnya kasus typhoid) maka salah satu pilihan adalah cyprofloxacin atau sepalospurin generasi ketiga. Namun ketika hampir semua penyakit diberi cyprofloxacin, maka indikasi patut dipertanyakan.

Pisang Goreng

Seorang dokter yang notabene mempunyai tanggung jawab keilmuan dan profesi, tentunya tidak gegabah memberikan obat ini kepada hampir semua jenis penyakit, yang pada gilirannya justru menambah daftar obat yang dapat menimbulkan MDR. Menurut penulis, kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: kurangnya pengetahuan farmakologi, pengaruh brosur dan iming-iming murahnya harga obat dari med-rep, ingin dianggap manjur, dan lain-lain sebab yang tidak jelas. Saat ini sudah tidak sulit menemukan cyprofloksasin, karena permintaan konsumen yang sudah biasa diberikan cyprofloksasin oleh dokter, harganyapun relatif murah berkisar 500 s/d 1000 rupiah, tidak jauh berbeda dengan harga obat wes ewes ewes ilang angine.

Belakangan saya makin prihatin dengan pemakaian cyprofloxacin yang luar biasa di Samarinda. Sungguh mengejutkan ketika sebagian pasien membawa cyprofloxacin ke tempat praktek, dan berlangsung hingga sekarang. Ternyata yang memberikan obat tersebut bukan hanya para dokter, tetapi juga paramedis termasuk di klinik-klinik perusahaan kayu lapis. Lebih aneh lagi kalau melihat indikasinya. Mulai tonsilitis, diare, herpes zoster, asthma, bahkan scabies dan larva migrans pun diberikan cyprofloxacin.

Cyprofloxacin, bak pisang goreng yang mirip lagu wajib. Suatu ketika terpaksa saya menganjurkan seorang pasien yang sudah minum cyprofloxacin dengan gejala klinis amoebiasis untuk menghentikan pemakaian obat tersebut, disertai permintaan maaf bahwa obat tersebut tidak tepat untuk penyakitnya dan sedikit penjelasan tentang antibiotika.

Buah “kerja sama”.

Pada salah satu kesempatan saya diskusikan booming cyprofloxacin dengan teman sejawat. Ketika saya tanyakan pemakaian cyprofloxacin jawabannya sungguh membuat saya terpana, karena alasannya adalah “aktualisasi diri”, selain harganya yang murah dan menurut brosurnya bisa untuk hampir semua penyakit infeksi, mulai saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kencing dan lain-lain. Itu kata mereka. Saat itu saya sempat berkomentar dengan nada canda:” wah, kalau seorang dokter lebih percaya dengan detailer dan referensinya adalah brosur kemasan obat, bakalan MDR nih warga kita “.

Lebih mengherankan lagi pasien post opname di RS dengan beragam penyakit, sebagian diantaranya membawa bekas kemasan cypro ketika kontrol.

Itulah sekelumit realita yang saya sebut sebagai “booming cyprofloxacin”. Sepertinya kondisi ini sudah meluas dan tak terkendali, terbukti beberapa keluarga saya di Trenggalek dan Surabaya, ketika menanyakan resep yang dibeli dari apotik melalui sms, hampir selalu berisi cyprofloxacin (adakalanya masih dikombinasi dengan sefadroxyl). Benarkah yang disinyalir oleh majalah Tempo edisi September 1999 (kalau tidak salah) bahwa sebagian dokter terlibat dengan praktek “rantai kerja sama” yang merugikan pasien? Dan untuk cyprofloxacin, apakah nantinya akan bernasib seperti Tetra dan jamu asam urat yang bisa dengan mudah dibeli di warung-warung?

Bagaimana peran balai POM dalam hal pengawasannya dan fungsi public warning? Apakah mereka sibuk, maaf, dengan backing apotek dan pemutihan resep?

Dimana pula Depkes? Apakah masih berkutat dengan record and report yang dangkal? Ataukah masih bicara program yang “project oriented” dan mempolitisir warga miskin melalui kata manis “kerja sama” dengan Askes yang potensi pembengkakan premi dan kapitasi?
Tidakkah mereka lupa dengan hakekat kesehatan?

cak moki 2004 | last up date: 28 Mei 2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: