Mutu Layanan Kesehatan 2: Menata Niat

November 3, 2006 pukul 1:20 am | Ditulis dalam Health Issues | 4 Komentar

Menata niat Menyambung tulisan terdahulu tentang Mutu Layanan Kesehatan 1, tak pelak memunculkan pertanyaan: “darimana mulainya?” Menurut pendapat saya, keinginan memberikan layanan kesehatan bermutu diawali dengan niat, maksudnya menata niat dari sanubari untuk memberikan layanan dengan totalitas dan ikhlas.

Mengapa sih, hal ini menjadi penting? Di titik inilah salah satu bagian dari sebuah mata rantai bermula. Mengawali sesuatu memang seringkali sulit, demikian pula layanan kesehatan nan kompleks dan melibatkan banyak hal, mulai yang teknis hingga non teknis. Kata kuncinya adalah mengalahkan diri sendiri…lho koq gitu … ilustrasinya begini: di instituasi layanan kesehatan, kompetensi tertinggi teknis medis adalah seorang dokter, ingat yang dimaksud adalah kompetensi teknis medis bukan manajerial. Di sisi lain layanan yang bermutu dan komprehensif memerlukan juga banyak hal non medis atau penunjangnya, termasuk manajerial, namun tetaplah berangkat dari teknis medis. Untuk itu seorang dokter di institusi layanan kesehatan harus yakin bahwa memberi layanan terbaik di tempat kerja tidak akan mengurangi jumlah kunjungan pasien ketika praktek sore atau malam harinya, justru yang terjadi sebaliknya, bila memberi layanan terbaik di tempat kerja, niscaya akan dicari orang di tempat prakteknya, tanpa menyebar kartu nama, tanpa harus menyuruh kontrol ke praktek, penderita akan datang dengan sendirinya. Nggak percaya, silahkan para sejawat membuktikannya …

Mengapa saya ungkit yang beginian, jujur saja masih ada sejawat yang punya pola pikir keliru, melayani ala kadarnya di tempat kerja (ogah memperjuangkan perbaikan layanan) dengan harapan para pasien datang ke tempat praktek. Pola pikir demikian tak ayal juga diikuti kebanyakan paramedis. Budaya demikian harus dirubah total.

Setelah yakin berniat ikhlas, langkah selanjutnya adalah membuat planning matang dengan mengedepankan kepentingan khalayak, artinya kebiasaan mark-up atau istilah apapun namanya harus dihilangkan. Mulai pengadaan, operasional, berbagai belanja barang dan jasa, keperluan rutin, serta segala item program dalam perencanaan mutlak harus realisized. Contoh paling gamblang, jangan lagi beli barang seharga 2 juta minta ditulis 3 juta dalam spj, rapat kerja 3 hari dipertanggung jawabkan 6 hari, nasi kotak diganti nasi bungkus, perjalanan 2 hari dipertanggung jawabkan 4 hari, dll … dll. Pendeknya sejak awal harus melangkah dengan benar. Bayangkan ketika dari awal sudah membuat kesalahan yang dibuat seakan-akan benar dengan membolak balik bahasa dan memanfaatkan lemahnya sistem, niscaya perbaikan mutu layanan kesehatan hanyalah ungkapan kosong tanpa makna. Dampaknya, masyarakat tidak mendapatkan manfaat optimal dari program kesehatan apapun bentuk dan namanya.

 

Sebuah pengalaman menarik perlu saya ungkapkan di media ini. Ketika tahun 2001 lalu saya diberi tugas mempersiapkan pembangunan Rawat Inap di Puskesmas, perintahnya sangat sederhana namun maknanya luas, Ka Dinkes ketika itu hanya berfatwa pendek: “siapkan dan kelola dengan optimal”. Namun ketika draft pembangunan gedung hingga SOP dan Perda usai tersusun, hambatan pertama justru datang dari internal kesehatan. Lontaran argumen macam-macam, yang Kepmenkes lah, yang Permenkes lah dll, padahal UUD 1945 dan Renstra Nasional Bidang Kesehatan jelas-jelas mengamanatkan perbaikan mutu layanan dilengkapi dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM). So ngga usah kaget, penyebabnya mungkin ego sektoral atau jangan-jangan setengah hati meneriakkan Pelayanan Optimal, atau mungkin juga tidak mengerti seluk beluk layanan medis dan harapan khalayak … Untungnya Ka Dinkes saat itu tetap support.
Jalan berliku, bermuara pada hearing di DPRD, alhasil gol…

Tanpa bermaksud menggurui, tulisan singkat ini anggap aja sebagai ajakan sharing tip dan trik mengelola layanan kesehatan ke arah yang berkualitas, dengan harapan memberi manfaat bagi sesama dan mudah-mudahan mendapatkan ridho-Nya.

Inti segmen tulisan ini adalah perlunya memotivasi diri dan paramedis bahwa yang utama dan pertama dalam layanan kesehatan adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya, ramah dan sabar, niscaya yang lain datang kemudian, dalam bentuk dan waktu yang kita sendiri tidak menyadarinya.

Bersambung ke Mutu Pelayanan Kesehatan 2: Menyusun Protap >> menyusul

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. cara berfikir g perlu dikembangkan
    sy sangat tertarik, krn di daerah sy pola pikir petugas kes masih spt yg anda ungkapkan
    sy dr NAD skg lg ntelesaiin tgs bljr magister di UI, tulisan anda memacu motivasi saya menuju arah lebih baik.. maju trus teman…

  2. @ Wahyudi, SKM,
    Trims supportnya. Sama koq pak, dulunya juga begitu, namun dengan motivasi dan pendekatan personal akhirnya bisa.
    Selamat menyelesaikan Magister-nya.
    Semoga sukses dan semoga temen-temen di NAD lebih maju dari kami.

  3. wau..saya benr2 tergugah membaca pengalaman cakmoki dlm puskesmas palaran ini.saya dr lulusan 2007,jadi saya pendatang baru yang gak sengaja nyenggol disini.intinya saya mendukung berat ide dan niat cakmoki dalam penigkatan mutu dan pelayanan kesehatan dengan hati yg bersih tanpa neko2.tanks buat semua informasi dan insfrasinya,semoga allah membalas dgn kebaikan,kini nanti atau kelak..

  4. @ prima,
    Dear Sejawat,
    trims telah berkunjung dan do’anya🙂
    Mari berjuang, moga Allah YME melimpahkan hidayah-Nya kepada kita. Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: