Minum obat Asma, koq berdebar sih

Februari 23, 2007 pukul 7:20 am | Ditulis dalam Artikel, Health, Kesehatan, Medical Informatics, Reviews | 8 Komentar

by cakmoki, artikel asli klik: di sini

Kali ini saya tidak membahas penyakit Asthma, lantaran sudah banyak yang mengulasnya, misalnya di wikipedia atau situs lain.
Bagi yang berminat mengunduh file flash swf tentang Asthma, silahkan klik di sini atau buka halaman download.

Sesuai judul di atas, maka saya ingin berbagi pengalaman perihal seluk beluk pemberian obat (terutama obat pereda sesak) pada penderita asthma.

Ketika baru datang ke Kaltim dan ditempatkan di Puskesmas Palaran awal 1987, saya dibuat terkejut lantaran cukup banyak penderita asthma di tempat tugas.
Kasus Asthma berat dinamakan Status Asmatikus, yakni asma yang sudah ngak-ngik, tanpa diperiksapun sudah kedengaran saat berhadapan.
Ada belasan orang pelanggan tetap penyakit ini. (sekarang makin banyak)

Minggu pertama kerja di Puskesmas, datang seorang penderita dengan Status Asmatikus. Pak Mantri pendamping saya mengatakan bahwa yang bersangkutan sudah tahunan menderita penyakit tersebut dan sudah terbiasa disuntik lewat lengan.
Setelah periksa sambil menanyakan keluhannya, selanjutnya saya nulis di lembar status sebagai berikut:
1. Injeksi aminofilin 1 ampul iv (suntik di lengan).
2. Injeksi Deksametason 1 ampul im (suntik bokong).
3. Obat oral ( obat minum)

  • Aminofilin 200 mg 3 x 1, 20 tablet
  • GG 3-4 x 1, 20 tablet
  • Prednison 3 x 1, 20 tablet. ( ini obat yang ada ketika itu, tidak ada pilihan lain)

Setelah injeksi, penderita tersebut mengatakan bahwa selama ini, setelah di suntik lewat pembuluh darah vena ( intravena ) rasanya enak, sesaknya berangsung berkurang, tetapi deg-degan (berdebar), badan lemas, tangan gemetar seperti tidak berdaya.

Nah itulah kesalahan saya.
Apa sih salahnya ?
Mestinya saya wajib memberi tahu lebih dahulu bahwa suntikan tersebut akan menimbulkan efek samping: berdebar, badan lemas, tangan gemetaran.
Kalau pada suntikan sebelumnya penderita mengalami hal tersebut, mestinya dosis obat dikurangi, dengan konsekwensi interval waktu berkurangnya keluhan makin lama, tetapi efek samping dapat diminimalisir.
Intinya dialog yang bersahabat dengan penderita mutlak diperlukan. Penderita bukan obyek semata dan efek obat individual, artinya tidak selalu sama untuk tiap penderita, walaupun penyakitnya sama persis.

Karena itu, bila akan memberikan obat asma, suntikan maupun obat minum, hendaknya selalu mengingatkan efek samping obat kepada penderita atau keluarganya, walaupun si penderitasudah biasa minum obat tersebut.
Jangan lupa pula menanyakan apakah selama minum obat ada efek samping seperti di atas.

Koq bahasa di atas masih sulit sih.
Baiklah saya akan memberikan contoh dalam bentuk dialogis.

Contoh 1: penderita Status asmatikus.
Dokter: ” Maaf pak Mat (misalkan namanya pak Mat), apa bapak pernah disuntik lengannya ?
Pasien:” belum pernah pak/bu dokter “. (sambil megap-megap)
Dokter: ” Pak Mat akan saya suntik lengannya, insya Allah akan mengurangi sesak lebih cepat. Mungkin nanti bapak merasa berdebar, lemas dan gemetar. Permisi ya pak “.
Bismillahirrohmanirrohim.
Nyussss.
Sambil nyuntik sampaikan pula bahwa suntikannya sakit karena disuntikkan di bawah kulit. (gak percaya coba sendiri)
Dokter: ” Sekarang suntik bokong pak, monggo “.

Bismillahirrohmanirrohim.
Nyussss lagi.

Setelahnya, ajak omong-omongan.
Dokter: ” bagaimana pak, deg-degan apa tidak “.
Pasien: ” tidak pak/bu dokter “.
Berarti gak ada masalah tinggal ngasih obat minum.

Bila ternyata pasien mengatakan berdebar, lemas, tangan dan kaki gemetaran, langkah selanjutnya adalah sebagai berikut.
Dokter: ” ya pak, itu efek samping obat seperti yang saya jelaskan tadi, monggo duduk sebentar “.
Periksa denyut jantung, nadi sambil menjelaskan lagi bahwa efek tersebut bersifat sementara, nanti akan berangsur hilang.

Saatnya memberi obat minum.
Dokter: ” pak, obat yang ini adalah obat sesak. Minumnya 3 x 1 sehari. Bila minum 1 tablet berdebar atau lemas, dosis selanjutnya dikurangi menjadi 3 kali setengah. Bila minum setengah masih berdebar, dosis selanjutnya dikurangi tiga kali seperempat. Bila minum seperempat masih berdebar, bapak kembali ke sini ya. Nanti diganti yang lebih ringan.”
Jelaskan juga, bahwa efek samping tersebut bukan karena dosisnya tinggi, tetapi karena semua obat sesak memang mempunyai efek samping berdebar.
Setelah pasien mengerti, selanjutnya:
Dokter: ” yang ini adalah obat pengencer dahak, minumnya 3×1 sehari. Sedangkan yang ini anti alergi (misalnya memberi steroid), minumnya 3×1 “. Apa bapak sudah mengerti “.
Bila belum mengerti, diulang lagi sampai ngerti.
Jelaskan pula bahwa obat tersebut bisa dihentikan bila tidak sesak lagi, dan bisa dipakai ulang bila kambuh. ( kecuali antibiotika, harus habis)

Permasalahan.
Adakalanya (maksud saya seringkali) dokter kurang menjelaskan hal-hal demikian, sehingga ketika pasien merasakan berdebar dan lemas setelah minum obat sesak, maka pasien merasa gak cocok. Obat bisa dibuang atau pindah ke dokter lain. Dan bila dokter lain sami mawon, maka pasien merasa gak cocok lalu pindah dokter lagi. Pasien mutar muter keliling ke berbagai dokter padahal obatnya sebenarnya sejenis, hanya beda nama dagang.
Akibatnya, tidak terjadi pembelajaran. Selain itu pemborosan kan ?
Oya, kadang (maksud saya seringkali) dokter tidak memberi label fungsi obat dalam klip plastik. Malah ada juga (maksud saya seringkali) hanya lembaran keping obat lalu ditulis pakai spidol sekian kali sehari.
Mengapa ? Bukankah pasien memiliki hak untuk mengetahui apa yang akan diminum ?
(ada undang-undangnya lho )
Persoalan lainnya, bila pasen nebus obat ke apotik. Berapa persen apotik yang menjelaskan seluk beluk obat ?
Paling-paliang hanya sekian kali sehari, dihabiskan (bila antibiotika), sesudah atau sebelum makan. Itu saja. Betul apa betul ?

Wah maaf, koq seperti tutorial ya.
Mari berbagi, untuk perbaikan kualitas pelayanan dan pembelajaran kepada sesama.
Saya selalu mengatakan ini kepada para sejawat, walaupun ada yang menentang juga dengan beragam alasan.
Di berbagai kesempatan sayapun sering mengatakan sebagai berikut:

” Tidak usah kuatir gak laku, rejeki ada yang ngatur. Makin banyak kita memberi informasi, bukannya pasiennya lari tetapi akan memupuk empati dan pada gilirannya tanpa diharapkan malah menumbuhkan rasa percaya “.

Apakah anda setuju ?
Atau menolak ?
Dan kepada pembaca, apa yang penjenengan harapkan dari layanan kesehatan ?
*halah, koq koyok pejabat*

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dear cak moki,
    saya salut sekali dengan website yang anda anda buat karena sangat membantu dan menolong dokter2 yang baru lulus dan kurang pengalaman seperti saya ini.Apalagi dengan download2 gratisannya. Semoga Gusti Alloh SWT yang mbales.
    Apa dokter punya website atau blog pribadi yang tentu saja berisi tentang hal2 medis ? misalnya bagaimana membuat resep puyer untuk anak2 dan dosisnya,dll
    Matur nuwun sanget atas bantuannya.Sekali lagi biar Pangeran sing mbales.Amin

  2. asalamualaikum doc. istri saya kalo lagi asma minum bricasma setelah itu setengah jam mulai agak reda tetapi badan menjadi lemas dan berdebar trus buang air besar. sebaiknya istri saya minum obat asma apaa ya dok, dok asma bisa sembuh ngak sih tanks

  3. @ Kiky,
    Ehm-ehm, jangan muji-muji dong, ntar kepala saya jadi melar lho. Monggo didownload yang diperlukan.
    Blog pribadi silahkan klik di sini. Kita bisa diskusi di blog pribadi.
    Trims

    @ Cing_Mukhlis,
    Ya itu efek samping semua obat asthma. Cara mengurangi berdebar vdan lemas: bricasma diminum 1/2 tablet saja. Atau digantu Euphyllin retard mite 2×1 atau 2 x 1/2. Asthma tidak bisa sembuh, tapi bisa dikendalikan dan yang penting selalu siap obat asthma di rumah.
    Semoga membantu🙂

  4. Salam ,
    yaahhh ,itulah problem kita semua ..yi kok kita nggak punya waktu utk menjelaskan ke pas pada waktu praktek ,kok kalau seminar bicaranya heebat banget …tapi pas giliran praktek kaya orang nggak lancar bahasa Indonesia ,dikiiit sekali ANAMNESAnya dan kaya di kejar setan sama pas.
    Trussss juga yang menjadiperhatian para TS hanya OBAT melulu ,Lahh kapan bagian preventifnya ? ,latihan mengoptimalisasi otot – otot dada dan bantu pernapasannya tertinggal hampir nggak ada perhatian dan yang berminat mendalaminya……..yaaa jadinya kondisi kita masih seperti gini aja …. jauh dari cita-cita . Tapi ayo mas dan TS semua mari kita mulai dari yang kita bisa utk memulainya…Salam SEHAT

  5. Dok,anak saya 5 th,sering sesak (asthma) sampe ngik2. waktu umur 3/4 tahun pernah minum obat 3 bulan berturut2.trus 4/5 tahun dia minum obat 6 bulan berturut2,kok asthmanya gak sembuh ya… sekarang kalo dia sesak saya kasian kok minum obat terus… jadi saya uap (ventolin + flexotide ukuran 1/2) apa ada efek samping? tx.

  6. sy bangga bc wbste anda2 krn mmng kebanyakan ya spt yg anda jeleskan diatas kebanyakn dokter tdk menjelaskn n mmberi tau scr detail bahkn nm obaty g diberi tau gar pasien g bs cr dt4 lain kali hehe……smga ja tenaga keshatan yg lain bs spti anda.amiiiiiiiiin

  7. saat ini saya lg astma d puncak daerah batu,sy bth pgobatan praktis.
    alhmd,bsa mampir blog ini,helping bgt neh.

    Erwin Malang
    http://www.erween.blogspot.com

  8. wah makasi bgt infonya ya dok.
    selama ini obat asma yang saya minum memang bikin jantung saya berdebar-debar.saya tanya ke dokter, katanya dosisnya yang telalu tinggi. Ga ada dokter yang bilang kalo emang efek samping obat asmanya yang mbuat jantung saya berdebar-debar. makasi ya dok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: